Selasa, 03 Mei 2011

2/3 Amerika Akan Hancur Jika Gunung Ini Meletus

Gunung berapi di Yellowstone
National Park, di kawasan barat
laut Wyoming, Amerika Serikat,
menunjukkan tanda-tanda aktivitas
yang tidak lazim.

Menurut catatan United States
Geological Survey, dataran di
kawasan itu telah naik dengan
kecepatan tiga inchi atau sekitar 7,6
sentimeter per tahun dalam tiga
tahun terakhir. Pertumbuhan ini merupakan yang tertinggi sejak mulai
dicatat pada tahun 1923.

"Pertumbuhan ketinggian tersebut
sangat tidak lazim karena ia terjadi di
kawasan yang sedemikian luas dan
pada kecepatan yang sangat tinggi,"
kata Robert Smith, seorang
profesor geofisika dari University of Utah, seperti diberitakan DailyMail.

Awalnya, kata Smith, pihaknya
khawatir bahwa fenomena ini akan
menjurus ke meletusnya gunung
tersebut. "Namun demikian, kami
mendapati bahwa magma di bawah
kawasan itu kini berada di kedalaman 10 kilometer, jadi kita tidak usah
panik," ucapnya.

Meski begitu, Smith menyebutkan,
jika magma terus naik hingga hanya 2
sampai 3 kilometer dari permukaan
tanah, saat itulah warga AS perlu
betul-betul khawatir.

Seperti diketahui, gunung di
Yellowstone National Park pernah
dua kali meletus secara dahsyat
sekitar 1,3 juta tahun lalu dan sekitar
642 ribu tahun lalu.

Terakhir kali meletus, ia
memuntahkan debu hingga ketinggian
30 ribu kaki atau sekitar 9.100 meter
dan debunya telah menutup kawasan
mulai dari barat Amerika Serikat
hingga Teluk Meksiko.

Para peneliti memprediksi, jika
fenomena kenaikan permukaan tanah
di kawasan tersebut berlanjut, gunung
berapi super ini berpotensi meletus
dalam waktu dekat. Jika sampai
meletus, maka dua per tiga bagian dari Amerika Serikat tidak akan lagi
dapat dihuni.

Sayangnya, akibat kurangnya data
yang dimiliki dari letusan terakhir,
peneliti tidak dapat memperkirakan
kapan bencana alam berikutnya akan
terjadi.

Yang pasti, letusan dahsyat gunung
ini bakal membuat letusan gunung
Eyjafjallajokull di Islandia pada April
2010 lalu (yang sempat merusak
jadwal penerbangan di seluruh dunia)
menjadi tampak sangat kecil skalanya.

Sumber : teknologi.vivanews.com